Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Friday, March 11, 2011

6 Jalan Raya Dengan Pemandangan Terindah di Asia

Meski sebagian besar Asia terdiri atas negara kepulauan dan beberapa kota besar padat penduduk, ada tempat-tempat yang bisa mengakomodasi keinginan Anda untuk menginjak pedal gas mobil dalam-dalam. Inilah beberapa tempat paling indah di Asia untuk menyetir dan menikmati kebebasan di jalanan. Nikmati pemandangan indah selagi merasakan hembusan angin di muka yang terpapar matahari. Dan jangan lupa, bawa daftar lagu favorit Anda untuk mengiringi sepanjang perjalanan!


Photo credits - Shermeee

Great Ocean Road - Australia

Hanya sepelemparan batu dari Melbourne, Anda bisa menemukan Great Ocean Road. Jalan sepanjang 151 mil (243 km) menghubungkan sepanjang pantai selatan Australia. Ini adalah salah satu lokasi favorit di dunia untuk melihat matahari terbenam, apalagi jika Anda berada di dekat 12 Apostles (Rasul), jejeran patahan batu kapur yang mengagumkan. Jangan lewatkan juga tur helikopter di sepanjang pantai jika cuaca mendukung, dan beberapa toko rabat perlengkapan selancar di Torquay. Ada juga area jalan kaki di hutan dekat Lorne yang menyimpan air terjun mempesona. Dan ada beberapa 'pintu masuk' menuju hutan tropis terakhir di Australia, Taman Nasional Great Otway.


Photo credits - wikipedia.org

Jalur Terusan Hai Van -Vietnam

Terusan Hai Van, pada rute 1A antara Hue dan Hoian, diklaim sebagai "sebuah pita kesempurnaan...salah satu jalan pantai terbaik di dunia." Hai berarti awan laut, dan memang perbukitan di sekitarnya kerap tertutup kabut. Rute ini memiliki jalur alternatif, Terowongan Hai Van. Bagi banyak pengemudi, ini adalah jalur yang sulit, jadi waspadalah sebelum mencobanya sendiri! Tapi dengan pemandangan perbukitan hijau, laut yang berkilauan, dan puncak gunung, tempat ini menjadi sangat indah.


Photo credits - N-i-b-i

Jalur Osado Skyline - Pulau Sado, Jepang

Selama bertahun-tahun, Pulau Sado sudah menjadi tempat berlindungnya para pemberontak politik, namun para turis datang ke sini untuk menikmati kedamaian dan ketenangan. Dengan populasi 70 ribu orang, ada ruangan yang lega untuk bersantai sambil menikmati asrinya Pegunungan Osado, tebing laut, dan desa-desa kecil. Aktivitas hiking sangat populer di pulau ini, tapi jangan lewatkan jalanan sepanjang 155 mil (250 km) yang bisa Anda jelajahi. Pemandangan terbaik bisa Anda lihat ketika melewati perpotongan jalur antara pegunungan Osado dan Gunung Kinpoku, puncak tertinggi pulau ini. Pastikan untuk berhenti di titik Hakuundai; jangan lupa, jalan ini akan tutup pada musim dingin (November-April).


Photo credits - Tingting Sullivan

Jalur Phuket Timur Laut - Thailand

Lepas dari Phuket yang ramai, ada beberapa jalur yang bisa Anda lalui untuk melihat pemandangan pedesaan. Salah satunya adalah jalur Mission Mills, sementara yang populer lainnya adalah Kelokan Timur Laut Phuket. Awalnya adalah Monumen Para Pejuang dan mengitari pantai timur pulau tersebut. Ada pemandangan menakjubkan di Teluk Phang-nga dan Anda akan menemukan banyak desa nelayan di sepanjang perjalanan yang mengundang Anda untuk menikmati makanan laut. Jangan lupa juga melihat patung dewa Hindu berkepala gajah, Ganesha.


Photo credits - isafrancesca

Jalan Tol Halsema - Filipina

Jika Anda ingin mencapai puncak tertinggi pada sistem jalan tol Filipina, langsung saja menuju Jalan Tol Halsema yang menghubungkan Baguio dan Sagada. Nama jalan tol ini diambil dari insinyur yang mampu membangun jalan melewati pegunungan. Selain pemandangan peternakan dan kebun-kebun sayur, Anda juga bisa melihat berbagai objek unik. Momen unik ketika Anda melihat banyak dari desa-desa ini yang mendirikan monumen untuk ekspor terbesar mereka, sayuran. Pastikan Anda berhenti untuk berfoto di patung kentang, patung wortel, dan seterusnya. Hanya di Asia...


Photo credits - geoftheref

Dari Twizel ke Mount Cook - Selandia Baru

Air tak pernah terlihat lebih biru dan surreal daripada di Danau Pukaki di tengah South Island, Selandia Baru. Jalanan sepanjang 39 mil (63 km) dari Twizel melewati Danau Pukaki yang seakan tanpa ujung, berakhir di Desa Mount Cook, tempat Anda bisa melihat puncak bersalju Mount Cook, titik tertinggi Selandia Baru. Di desa ini Anda bisa memilih hiking atau menikmati tur ke Danau Pukaki. Anda juga bisa berkendara menjelajahi banyak jalan di kawasan ini, tapi Mount Cook punya banyak pesona.

Tips Bepergian

Sudah tak perlu dijelaskan lagi: sebelum Anda berangkat, pastikan Anda mengetahui aturan yang berlaku di negara yang Anda kunjungi. Pada beberapa negara, Anda mungkin membutuhkan SIM tambahan. Jika Anda tidak berbicara bahasa setempat, bawalah buku petunjuk berisi frasa-frasa yang paling sering digunakan untuk referensi.

Dan tentu saja -- berkendaralah dengan aman. Banyak negara yang terkenal akan kecerobohan cara menyupir orang-orangnya (fenomena yang tidak hanya terbatas pada Asia), jadi berhati-hatilah.

READ MORE - 6 Jalan Raya Dengan Pemandangan Terindah di Asia

Wednesday, March 9, 2011

Kerajaan Manta di Kepulauan Derawan

Oleh Famega Syavira

Pari manta adalah spesies ikan pari berukuran paling besar di dunia. Jenis paling besar bisa tumbuh hingga mencapai 7 meter dengan berat lebih dari 2 ton. Saya mengunjungi salah satu kerajaan manta di Indonesia yang terletak di perairan sekitar Pulau Sangalaki, Kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan Timur.

Foto: Yahoo!/Famega Syavira

Ikan dengan nama latin Manta birostris ini akan menampakkan diri saat air pasang. Air pasang membawa serta plankton yang merupakan makanan kesukaannya. Tandanya, air laut yang semula biru jernih mulai berwarna keruh akibat plankton.

Pulau Sangalaki bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan kapal motor dari Pulau Derawan. Tak lama setelah tiba, kami melihat manta mulai berdatangan dan berenang tepat di bawah permukaan air. Kami mencebur ke laut, beberapa puluh meter dari manta. Speedboat tak boleh terlalu dekat karena bisa menakuti binatang jinak itu.

Saya lalu berenang sekuat tenaga untuk mencapai manta. Bukan berenang sebenarnya, karena saya sama sekali tak bisa dan tak tahu teknik berenang. Tepatnya, berusaha menggerakan badan untuk maju. Beruntung, manta berenang langsung ke arah saya.

Sosoknya yang hitam dan menyeramkan membuat saya terdiam sementara dia terus menuju pada saya. Wujudnya sangat besar dengan mulut lebar mengingatkan saya pada pari berekor tajam yang bisa membunuh manusia. Padahal, manta yang ini tak berbahaya.

Sesaat sebelum kami bertabrakan, manta meliukkan tubuhnya ke dasar. Gerakannya anggun sekali seperti penari. Dia lalu meliuk lagi kembali ke arah kedatangannya. Manta berenang cepat dan saya hanya terpaku menatap kepergian si manta hitam anggun.


Photo credits - ThinkStock

Tak hanya satu manta yang muncul, ada beberapa yang berenang di sekitar. Binatang ini juga dikenal suka melompat ke permukaan air. Jika beruntung, manta bisa muncul bergerombol dalam jumlah banyak. Tempat ini juga merupakan titik kesukaan para penyelam karena keindahannya. Sayang, saya tak bisa menyelam.

Manta hanya satu dari ratusan ikan yang hidup di perairan ini. Setidaknya ada 872 macam ikan karang yang menghuni daerah ini dengan enam macam spesies lumba-lumba dan tiga jenis paus.

Saya mengunjungi Derawan atas undangan dari The Nature Conservancy, lembaga nirlaba yang bekerja untuk menjaga kelestarian ekosistem laut kepulauan ini. Saat ini Kawasan Konservasi Perairan Berau menghadapi banyak ancaman, seperti perusakan terumbu karang, penangkapan penyu secara ilegal dan penangkapan ikan tak ramah lingkungan dengan racun dan bom.


Foto: Yahoo!/Famega Syavira

Padahal, kepulauan Derawan adalah daerah dengan terumbu karang terkaya kedua di dunia. Luas terumbu karangnya tak kurang dari 66 ribu hektar. Keanekaragaman terumbu karang di daerah ini berjumlah lebih dari 507 spesies, hanya dapat dikalahkan oleh keragaman di Kepulauan Raja Ampat, Papua.

Kepulauan ini juga menjadi pusat bertelur penyu hijau alias Chelonia mydas. Hampir setiap malam ada penyu hijau yang bertelur di sudut gelap pantai. Ada pula penyu sisik atau Eretmochelys imbricata yang sangat langka.

Danau Purba Kakaban

Setelah puas bermain bersama manta, kami melanjutkan perjalanan ke perairan sekitar Pulau Kakaban. Pulau ini istimewa karena ditengahnya ada danau purba berisi air asin. Danau itu semula adalah laguna yang berubah wujud akibat proses pengangkatan daratan berjuta tahun lalu. Air laut beserta seluruh isinya terperangkap di tengah membentuk ekosistem unik.


Foto: Yahoo!/Famega Syavira

Kakaban dihuni empat macam ubur-ubur yang telah kehilangan daya sengat. Ubur-ubur tak menyengat ini hanya ada di dua tempat di dunia. Selain Kakaban mereka bisa ditemukan di Republik Palau, salah satu negara di Kepulauan Pasifik.

Ubur-ubur memenuhi danau seperti cendol. Aurelia aurita berbentuk seperti piring lebar bening. Cassiopeia ornata berenang terbalik dengan tentakel di atas. Martigias papua berwarna coklat dengan jumlah paling banyak. Kami berlomba mencari Tripedalia cystophora, ubur-ubur seujung kuku yang paling jarang ditemukan.

Danau itu punya sistemnya sendiri untuk menyeimbangkan populasi Di dasar danau ada anemon pemangsa ubur-ubur. Ukurannya sebesar jari, berwarna putih transparan dengan sulur. Coba saja dekatkan ubur-ubur ke sulur, dia menyantap ubur-ubur itu dengan mengisapnya.

Untuk menuju ke danau kami harus melalui dermaga kayu menuju hutan lebat. Tangga bersambung masuk dalam hutan, menaiki bukit. Danau ada di balik bukit kecil itu. Setelah berjalan beberapa ratus meter, upaya naik ke atas bukit terbayar sudah. Langit dan laut begitu biru. Udara segar bertiup dari pulau yang hijau.


Foto: Yahoo!/Famega Syavira

Kami langsung mencebur, lengkap dengan snorkel dan fin. Ubur-ubur banyak sekali dan mudah ditangkap. Rasanya seperti memegang jelly. Di tempat lain dengan ubur-ubur sebanyak ini, tak bakal ada orang yang berani berenang karena akan tersengat.

Hanya ada kami berlima dan pulau. Hanya terdengar bunyi tonggeret dan desir angin yang membuat kecipak kecil di permukaan danau. Suasana hening ini menambah kemisteriusan danau yang masih menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap.


http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/63-kerajaan-manta-di-kepulauan-derawani

READ MORE - Kerajaan Manta di Kepulauan Derawan

Thursday, March 3, 2011

Tempat Menarik di Cina Yang Bukan Tembok Besar

Oleh Mitch Moxley

Danau gletser, hutan di pegunungan, pantai berpasir dan banyak lagi. Inilah daftar tujuan-tujuan dramatis yang mungkin belum pernah Anda pertimbangkan saat membayangkan Cina.

Ada lebih banyak tujuan di Cina dari sekadar Shanghai Expo, makanan murah, dan tembok besar. Pesan tiket kereta dan tiket pesawat, lalu lihatlah beberapa atraksi Cina ini.

1. Karakul Lake, Xinjiang

Karakul adalah danau gletser dengan ketinggian 3600 mdpl, tersembunyi di antara Pegunungan Pamir, dan terlihat seperti berada di pinggir dunia. Terletak di sepanjang jalan tol Karakorum dan sepelemparan batu dari perbatasan Tajikistan, Karakul adalah tempat banyaknya unta, yak, penggembala Kyrgyz dan...hanya itu. Berjalan di sekitar danau (Karakul berarti danau hitam dalam bahasa Kyrgyz) membutuhkan waktu sekitar 3 jam dan menawarkan pemandangan spektakuler akan Gunung Muztagh Ata dengan ketinggian 7500 meter.

Banyak pengunjung yang memilih menginap di yurt milik penduduk setempat. Dengan harga $10 per malam, Anda bisa makan nasi, sayur, daging yak dan tidur di ruang tidur yang hangat dari tungku api kecil. Berpakaianlah yang hangat.

2. Menara Tibet di Sichuan Barat

Menara-menara misterius ini mewarnai Koridor Suku di Provinsi Sichuan Barat. Ratusan menara masih berdiri -- beberapa mencapai ketinggian 50 meter dan menunjuk ke 13 titik -- dan yang tertua diperkirakan berusia 1200 tahun.

Tidak ada yang tahu kenapa menara-menara ini berdiri dan apa kegunaannya, tapi beberapa orang mengatakan bahwa menara ini adalah bagian dari struktur pertahanan untuk mengamati bukit-bukit di sekelilingnya. Yang lain memprediksi bahwa menara-menara ini adalah simbol status atau rumah penyimpanan, atau keduanya. Meski begitu, menara misterius Himalaya ini adalah salah satu rahasia Cina.

3. Sungai besar di Cina

Cina memiliki beberapa sungai terbesar di Asia -- Sungai Kuning, Yangtze, dan Mekong -- dan bagi banyak penduduk, proyek dam raksasa negara ini adalah sebuah tragedi. Tapi Cina masih memiliki beberapa jalur sungai yang terpelihara dan bisa memperlihatkan sisi Cina yang jarang tampil ke permukaan.

Ekspedisi Sungai Perjalanan Terakhir, dikelola oleh pemuda Amerika yang berusaha melestarikan warisan budaya sungai Cina, bisa menjadi titik awal. Perusahaan ini menawarkan tur-tur ke sungai-sungai di Barat Cina -- termasuk Tibet, Qinghai dan Yunnan -- yang mengombinasikan pariwisata dengan tujuan sosial dan lingkungan.


4. Danau Surga, Tempat Loch Ness Cina

Sejak awal abad lalu, Monster Danau Surga sudah beberapa kali 'muncul'. Pada 2003, sekelompok tentara mengaku melihat hewan berwarna hijau dan hitam dengan sisik di punggungnya dan tanduk di kepalanya. Pada 2007, seorang kamerawan TV mengambil gambar dan foto tiga pasang mahluk bersirip, berbentuk seperti anjing laut, dan berenang secepat kapal yacht.

Ada atau tidak ada monster, Danau Surga adalah sebuah keajaiban. Danau vulkanik di Provinsi Jilin ini dianggap sebagai tanah suci pada Dinasti Qing. Dari puncaknya, Anda bisa melihat sekilas Korea Utara di seberang perbatasan.


5. Jalan Burma, Yunnan

Jalan Burma pernah menghubungkan Mandalay sampai Kunming dan menjadi lokasi pertempuran berdarah pada Perang Dunia 2. Pada teritori Cina, jalan ini berawal di Riuli dan dikenal sebagai titik penghubung Segitiga Emas, dan kini populer sebagai pasar giok. Anda akan melewati bukit berpemandangan indah dan sawah bertingkat dalam perjalanan menuju Tongsheng, tempat terdapatnya Museum Perang AntiJepang Yunnan-Burma.

Sebelum menuju Dali, sisakan beberapa hari untuk berjalan melewati desa-desa tradisional di sepanjang bagian selatan Sungai Nu. Setibanya di Dali, bersantailah di salah satu kafe yang tersebar di Kota Tua sebelum sampai ke Kunming, Ibu Kota Yunnan dan salah satu kota paling keren di Cina.


6. Afrika Kecil, Guangzhou

Tersembunyi di salah satu pusat Kota Tua Guangzhou adalah sudut paling menarik di Cina yang tidak Anda ketahui: komunitas yang terdiri dari sekitar 20 ribu pedagang asal Nigeria, Senegal, Ghana, dan negara-negara lain di Afrika.

Terletak dekat Pusat Jual Beli Grosir Ekspor Pakaian Kanaan, Afrika Kecil atau Kota Cokelat -- seperti yang sering disebut oleh penduduk lokal meski terdengar agak rasis -- muncul pada 1990an. Ini adalah masa ketika para pedagang berbondong-bondong datang ke Provinsi Cina selatan yang diberi julukan 'pabrik dunia'. Kelompok sosial dan komunitas keagamaan berkembang pesat dan banyak pedagang yang akan bersedia bercerita pada Anda tentang kisah hidup mereka -- yang baik dan buruk -- di Guangzhou.


7. Telanjang di Bukit Moganshan

Pada awal abad lalu, orang-orang kaya asing yang tinggal di Shanghai datang ke Moganshan untuk bersantai saat musim panas di vila mereka, bermain tenis, dan berenang di kolam umum. Kini Moganshan kembali terkenal, sebagian karena Naked Retreats, sekumpulan rumah-rumah tradisional yang direnovasi. (Jangan tertipu dengan namanya -- jika Anda ingin telanjang, maka itu harus dilakukan di bungalow Anda saja)

Setelah datang, para tamu dibawa melewati 'jalan santai' dan disarankan untuk menghabiskan beberapa menit mengagumi pemandangan. Aktivitas yang tersedia termasuk bersepeda, memancing, dan hiking. Pengunjung bisa berjalan melewati perkebunan teh dan hutan bambu, atau berenang di penampungan air sambil mendengar bunyi serangga. Akomodasi yang disediakan cukup sederhana -- lantai kayunya berderak dan tidak ada pendingin ruangan -- tapi bungalow dilengkapi dengan dapur, TV layar datar dan internet nirkabel.


8. Pulau Gulangyu

Setiap turis ke Cina selalu punya cerita soal mobil -- atau beberapa -- dan jarang yang positif. Gulangyu, sebuah pulau lepas pantai Xiamen, bisa jadi satu-satunya tempat tenang yang tersisa di Cina yang terobsesi dengan mobil.

Gulangyu, tempat tinggal sekitar 16 ribu orang pada satu kilometer persegi tanah, terkenal karena tidak memiliki kendaraan bermotor (dengan beberapa perkecualian). Sepeda pun tidak ada. Tidak ada klakson, macet, pengalaman hampir kecelakaan. Bisakah tempat ini disebut Cina? Pulau berbukit ini seolah setengah Havana, setengah Hawaii -- mimpi indah pejalan kaki.


http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/61-15-tempat-menarik-di-cina-yang-bukan-tembok-besar

READ MORE - Tempat Menarik di Cina Yang Bukan Tembok Besar

Friday, February 25, 2011

Gua Bawah Tanah yang Dramatis di Okinawa

Oleh Michael Lynch


Pembaca CNNGo Michael Lynch menjelajahi gua-gua purba di Okinawa dan menemukan arus air yang bercahaya, stalaktit dengan warna-warna psikedelik serta botol-botol minuman.

Dengan suhu rata-rata tahunan mencapai 22 derajat Celsius dan lebih dari 2000 mm curah hujan per tahun, pulau Okinawa adalah lokasi yang sangat lembab untuk dikunjungi.

Berselancar angin, berenang, snorkeling, scuba dive, jet ski, dan boating adalah aktivitas populer di sini. Anda yang tidak tertarik dengan aktivitas-aktivitas air, ada lima situs UNESCO yang bisa dikunjungi, serta berbagai festival pada bulan-bulan hangat.

Seperti laiknya pulau-pulau tropis lainnya, akan ada hari-hari hujan atau hari yang sangat panas dan lembab, saat semua pejalan lebih memilih bersembunyi di kamar hotel mereka. Tapi itu bukan liburan!

Maka ikatlah tali sepatu jalan Anda dan kunjungi gua-gua bawah tanah ini...



Gua Gyokusendo

Hanya 10 km dari selatan Bandara Naha, gua ini bisa dicapai dengan bus atau mobil dalam waktu kurang dari satu jam. Gua Gyokusendo adalah sistem gua terbesar kedua yang ditemukan di Jepang dan memiliki jalur sempanjang 800 meter yang bisa dilalui pengunjung.

Gua ini memiliki sungai-sungai kecil, air terjun, stalaktit dan stalagmit yang sudah terbentuk sejak 300 ribu tahun lalu. Gua ini memiliki penerangan yang baik dan sangat memperhatikan keamanan para pengunjung.

Pegangan tangan berbahan metal dan jalur pejalan kaki membuat berjalan sepanjang 800 meter di gua ini mengasyikkan. Tetapi Anda tetap harus waspada. Ada titik-titik yang licin, tempat kelembaban terakumulasi pada tali-tali tambang.

Pendeteksi gerakan akan menyalakan lampu, gua pun hidup dengan warna-warna psikedelik yang terpancar pada lapisan es stalaktit di atas kepala. Gemericik air dari sungai kecil dan air terjun bisa terdengar di sepanjang gua dan, di beberapa tempat, kolam-kolam air itu memancarkan cahaya biru dari lampu-lampu yang dipasang secara strategis di bawah permukaan air.

Meski suasananya damai, menenangkan, dan sunyi, tidak butuh imajinasi lebih untuk membayangkan kemunculan tiba-tiba sesosok monster dari bentuk dan bayangan tak biasa dari bebatuan di gua ini. Para produser film pun pernah menjadikan gua ini sebagai lokasi syuting film Godzilla pada 1974.

Gua Gyokusendo, 9.00-18.30. (November-Maret: 9.00-18.00) ¥1,200 untuk gua and Okinawa World Village. Fasilitas: kamar kecil, toko suvenir, restoran. Parkir: gratis dan tak terbatas. Untuk info lebih lanjut tentang Gua Gyokusendo, kunjungi www.japan-guide.com atau www.okinawa-information.com.



Gua dan Kuil Kin Kannon-do

Kuil Kin (Kannon), yang paling tidak ramah pejalan kaki dari tiga gua yang ada, memberikan kejutan dan sejarah yang unik. Sepatu jalan yang kuat, bukan sandal atau sandal karel, disarankan untuk mencegah terkilir atau jatuh saat menelusuri kedalaman gua.

Pada 1552, misionaris Buddha yang sedang berperjalanan dari Cina ke Jepang, diselamatkan dari kapal karam oleh para penduduk desa Kin dari taifun. Saat tinggal di sana, ia mendirikan Kuil Kin. Patung emas Buddha yang disumbangkan oleh misionaris itu duduk tersenyum di dalam gua.

Jalan turun menuju gua ini cukup curam, pegangan tangan disediakan di sepanjang tangga tapi tak lama sampai para pengunjung sampai di permukaan yang rata. Meski kering pun, jalan-jalan di gua ini bisa licin.

Sepanjang jalan, pengunjung bisa melihat hio yang dibakar dan ada persembahan-persembahan, menandakan pemujaan pada titik-titik sakral. Setelah Anda sampai pada permukaan tanah yang cukup datar, ada banyak keunikan-keunikan yang bisa dilihat.

Ada ribuan botol Tatsu Awamori (Sake khas Okinawa) berukuran 1,8 liter yang sengaja disimpan dan didinginkan di sejuknya kedalaman gua. Para pengunjung membayar ¥10 ribu per botol untuk menyimpan di rak-rak kayu yang berjejer di belakang gua selama 5 sampai 10 tahun.

Botol-botol ini akan diberi label nama pemiliknya dan tanggal mulai disimpan. Beberapa orang bahkan menempelkan foto bayi atau pernikahan, lainnya hanya nama dan tanggal.

Para pemiliknya akan mengambil botol ini pada saat-saat istimewa, seperti kelulusan seorang anak, merayakan anak tumbuh dewasa, atau pesta peringatan tahunan.

Saat saya berjalan kembali ke puncak tangga yang licin, saya berhenti di depan patung Buddha yang tersenyum, seolah tengah menjaga harta karun di bawah dan berpikir, "Ya, saya juga akan tersenyum seperti itu."

Gua dan Kuil Kin Kannon-do, tel. +81 (0)98 968 2438 (Penyulingan Kin), buka tiap hari 9.00-17.00, ¥400. Fasilitas: kamar mandi dan toko suvenir. Parkir: di jalan sekitar dan belakang kuil. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Kuil Kin Kannon-do, kunjungi www.showcaves.com atau www.wonder-okinawa.jp

http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/56-gua-bawah-tanah-yang-dramatis-di-okinawa?cid=today
READ MORE - Gua Bawah Tanah yang Dramatis di Okinawa

Thursday, February 24, 2011

Jalan-Jalan Ke Mana Ya Enaknya?

Oleh Trinity

Kalau lagi capek dan jenuh dengan rutinitas, rasanya pingin kabur ke suatu tempat, jalan-jalan sama keluarga atau teman. Saya sering mendengar banyak orang bilang, “Jalan-jalan, yuk! Bosen nih ngantor. Pengen cuti.” Lalu saya tanya, “Ke mana?” Dan jawabannya, “Nggak tau. Ke mana ya enaknya?”.

Bisa jadi karena mereka nggak tau apa maunya, tapi usut punya usut ternyata kata mereka menentukan destinasi liburan itu bukan perkara gampang. Padahal duit ada dan waktu tersedia. Apakah Anda mengalami hal yang sama?


Tempo/Arif Wibowo

Berikut beberapa saran bagaimana menentukan destinasi liburan:

1. Mengurai batasan
Pertama-tama uraikan dulu batasan-batasan yang kita punya, seperti berapa lama waktu yang tersedia, berapa banyak budget yang akan dihabiskan, dan dengan siapa kita akan pergi. Pergi bersama keluarga dengan anak tentunya lebih terbatas pilihannya daripada pergi bersama teman yang semuanya single. Yang berkeluarga harus menyesuaikan liburan sekolah, pergi ke tempat yang child friendly, dan budget yang lebih besar karena membiayai minimal 3 orang dari satu kantong. Sementara yang single pada dasarnya bisa pergi ke mana saja.

2. Menentukan tema
Pastinya kita akan pergi ke tempat yang kita senangi, tapi tempat seperti apa? Apalagi kalau kita tidak pergi sendiri kan harus disesuaikan dengan peserta lainnya. Paling gampang, tentukan tema perjalanan. Misalnya: wisata kuliner, wisata belanja, jalan-
jalan ke pantai, ke gunung, dan sebagainya.

3. Merinci detil
Nah, setelah ketemu temanya, saatnya merinci detil. Contohnya kalau kita mau ke pantai, pantai yang bagaimana? Berpasir putih kah? Pantai yang berpasir luas supaya bisa leyeh-leyeh? Ombaknya kecil atau besar? Atau tidak peduli pantai berpasir putih atau hitam, luas atau lebar, berombak atau tidak? Ingat, setiap tempat meski sama-sama pantai memiliki karateristik yang berbeda.


AP/Christophe Ena

4. Season
Bukan cuma berapa lama kita akan pergi yang penting, tapi juga kapan, karena libur di tempat Anda belum tentu libur juga di tempat tujuan. Apakah destinasi yang dipilih saat peak season (akhir pekan yang panjang, liburan sekolah, liburan hari besar) atau low
season? Tentunya saat peak season membutuhkan budget yang lebih besar karena harga cenderung lebih tinggi, juga membutuhkan persiapan yang lebih panjang karena harus memesan jauh-jauh hari agar mendapat tiket atau hotel.

5. Membuat konklusi
Setelah semua hal di atas kita ketahui, buatlah konklusi. Misalnya: saya dan dua orang teman yang tinggal di Jakarta, pingin pergi ke pantai berpasir putih selama long week end hari raya Nyepi dengan budget minim. Jadi kalau kita mau jalan-jalan selama tiga
hari liburan Nyepi ke pantai, maka Bali akan dengan mudah dicoret ke dalam daftar destinasi.

6. Mengumpulkan informasi
Saat ini informasi paling mudah didapat dari internet. Bisa ditambah dengan saran dari teman, baca majalah atau buku, atau bahkan nonton. Dengan konklusi yang sudah kita buat, pengumpulan informasi bisa sangat fokus. Contoh: Di mana aja ya, pantai berpasir putih yang aksesnya mudah (sehingga tidak terlalu mahal) untuk dijangkau dari Jakarta?


AP/Mike Groll

7. Memilah pilihan
Bisa jadi informasi yang kita dapat sangat banyak, sehingga timbul masalah baru: bingung menentukan mau yang mana. Atau justru kebalikannya, informasi yang ada sangat sedikit yang juga membuat bingung harus bagaimana. Nggak usah ribet. Kalau banyak pilihan, berdiskusilah dengan rekan perjalanan dan pilih tempat yang menyenangkan buat semua. Atau kalau jalan sendiri, tanyakan saran kepada teman atau keluarga. Kalau kurang informasi, silakan evaluasi kembali konklusi Anda, cari bagian mana yang bisa disesuaikan.

8. Menentukan destinasi
Meskipun sudah melewati tahap 1 sampai 7, ada kalanya hasil akhir kurang memuaskan. Bisa jadi karena jawabannya “kurang exciting” seperti misalnya Anyer untuk contoh di atas. Nah, balik lagi deh ke tahap 1 dan ubah semua batasannya.

Kalau masih bingung sementara waktu semakin dekat, saya punya 1 saran lagi: pulang kampung, berkunjung ke rumah saudara. Siapa bilang pulang kampung bukan jalan-jalan dan tidak exciting? Semua tergantung mindset kita, bukan?


http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/57-jalan-jalan-ke-mana-ya-enaknya?cid=today

READ MORE - Jalan-Jalan Ke Mana Ya Enaknya?

Monday, April 5, 2010

Spanish 101 and Recalling Peru


Friends, I have misplaced my camera cord so I cannot do my weekend review post as planned! Oops. So instead, some other goodies.

Tonight Mrs. Southern Aspirations heads back to school. I'm enrolled in Accelerated Spanish 101, in an effort to shed myself of my self-titled "Ugly American" status. Please don't get me wrong... when I travel to other countries I do behave myself and try not to be overly touristy.

However, I have not achieved my personal goal of being fluent in a language other than English. (For those readers who also are fluent in one language, I don't mean to sound judgmental of you! This is just my goal!!). You see, my sister is bilingual and teaches bilingual children. My mother taught High School Spanish and is very proficient in conversational Spanish. I, despite four years of Spanish and two years of French, am proficient in English. I have bought some CDs as well, but figure the classroom experience will be good for me.


On to Peru. I had the great opportunity to visit Peru with two of my dearest friends a few years ago and it was an amazing experience. We went from Lima...

the city was so beautiful in many parts and I can't believe I didn't take more photos! My favorite was my morning run with Jillie along the Pacific Ocean...

to Cuzco....

Santo Domingo Convent Monastery- quite simply gorgeous.

Pisaq Market for a little shopping


Ollantaytambo, the only Incan village where folks still live in the ancient buildings



our super-cute hotel, Sol y Luna



to the Sacred Valley of Machu Picchu...

Because of the elevation, it apparently is cloudy/foggy most mornings. However, still absolutely incredible views. This can be my inspiration for terracing the little hill in the backyard! (kidding, of course).
and then down to Puno.

We did a little hiking- and it was quite cold in parts!


Lake Titicaca

So yes, the trip was a bit touristy, but it was great to learn the history of the beautiful country while seeing it. Additionally, we used Latin Discover tours (we're not the group tour types) and were very pleased. Whenever we felt lost or confused, it's amazing how someone from Latin Discover would appear and call for us. Even when we didn't realize we should have gotten off the train.

cute little alpacas in Puno


By my next trip, I hope to be a bit more conversant in Spanish!

Have a great week!

Emmie
READ MORE - Spanish 101 and Recalling Peru

Tuesday, March 16, 2010

The Twin Cities: Two Much of a Good Thing

So I mentioned I"m up in the Great White North as I jokingly call this place. I'm up in Minneapolis, Minnesota- a city I moved to after I graduated grad school. While I'm thrilled to be out of the cold (mostly) and back South, I have very fond memories of this place. First of all, it represented my first big move by myself and some sense of my claim for independence. (Of course, I then left my city and my job to move to Atlanta for Mr. Southern, so there goes my whole Independent Woman schpiel. But, I did make the choice and am happy I did.)


For those who have never ventured to Minneapolis or St. Paul, you may be recalling movies like Fargo (which was actually filmed, in part, in Minneapolis). Or perhaps Grumpy Old Men. While there's a nugget of truth in these films, the reality is a much more diverse- and engaging- cultured town. With so many large companies based in the Minneapolis/St. Paul area, the Twin Cities are rather cosmopolitan. Great dining, great art (including theatre), and great shopping.


For example, when you think outdoor sculpture, do you envision the Spoon Bridge and Cherry? That's here in Minneapolis.
Claes Oldenburg & Coosje van Bruggen at the Walker Art Museum (a fabulous museum, by the way).




Tonight, I took my team to the first Coal Fired Pizza joint in Minneapolis- Black Sheep Pizza- and got to walk through my old stomping grounds, The Warehouse District (aka North Loop). I, in fact, lived on the third floor of the building of The Black Sheep (side note: so glad they were not there when I lived in the building, or I would have gained 20 pounds, easily.)

With the cities' Midwest "sensibilties" you might be quick to assume much of the Design in this area is bungalow or craftsman style. And there is a good bit of that around town (and I LOVE it! Especially when envisioning a warm and cozy home in the cold cold winter. )


Bungalow Club

Minneapolis Real Estate





Minneapolis Real Estate


But there are some very sleek loft spaces here too. For example, Andrew Flesher's Minneapolis loft, featured in Loft Living and Apartment Therapy.



Others, like these:




They also have some "crazy" Modern updates too, similar to what we see in Atlanta (and I do not mean this in a pejorative way at all).





So I can't say "Twin Cities" and omit St. Paul, though I don't know St. Paul as well. What I can tell you is that I would ADORE a house on Summit Avenue, reportedly a site of refuge for some of the Chicago gangsters of the early 1900s. Regardless, let's take a look.... (photos from real estate listings).




295 Summit

266 Summit


476 Summit

251 Summit


807 Summit


955 Summit


For more great homes, and the source of the photos from Jennifer Kirby, please visit Minneapolis- St. Paul Luxury Real Estate.

And I have to give a shout-out to my relatives, though we've sadly lost touch over the years- at The Grethen House- (visit their blog here) THE source for cutting edge, quality fashion. The company was started by my Grandmother's sister, Greta, and is run by my grandmother's niece (Greta's daughter). HUGE honor.

And lastly, a personal note. I mentioned leaving my job and heading South for Mr. Southern. I know that once one gets married, all the other little anniversaries fall by the wayside, but I had to mention that two years ago tonight, Mr. Southern asked me to marry him (after he asked for the blessing of my mom and stepdad, as well as daddy and stepmom). I love him so much and am so thankful he's a part of my life. I miss you sweetie and can't wait to see you Thursday! :-)

-Emmie

READ MORE - The Twin Cities: Two Much of a Good Thing